Tentang Seorang Ayah dan Sepasang Sepatu untuk Aldiya
Aku pergi ke mal sendirian siang itu. Bukan untuk diriku, bukan pula untuk gengsi. Hanya satu tujuan sederhana: pantofel paskibra warna hitam untuk anak perempuanku. sepatunya yang lama sudah rusak, dan ia memakainya tanpa keluhan, seolah ingin melindungi ayahnya dari rasa bersalah. Aku melangkah masuk ke toko sepatu khusus perempuan. Deretan warna lembut, bentuk mungil, dan cermin-cermin tinggi menyambutku. Aku satu-satunya laki-laki di sana. Di tanganku, bukan dompet ego, tapi ukuran kaki anakku. Angka yang kuhafalkan dengan sungguh-sungguh. Demi menemukan pantofel hitam yang rapi dan pantas dipakai sekolah. Ada rasa malu. Malu karena berdiri di ruang yang terasa “bukan wilayahku”. Malu karena membawa tas belanja berwarna "pink", sendirian, tanpa pasangan, tanpa anak di sampingku. Padahal isinya sepatu hitam yang sederhana. Tapi bersamaan dengan itu, ada rasa bangga yang diam-diam tumbuh. Bangga karena aku tidak lari. Bangga karena sebagai ayah, aku hadir, utuh, mesk...