Pambo: Lelaki Kecil dari Ngawi dengan Nyali yang Menembus Batas


Dalam perjalanan panjang dari Surabaya menuju Jogja, saat bus melambat memasuki Ngawi dan senja mulai merayap di balik kaca jendela, aku bertemu seorang pria kecil berambut gondrong, dan memakai peci hitam yang sedikit miring seperti penanda bahwa hidup pernah mengujinya berkali-kali.

Namanya, katanya sambil tersenyum, Pambo (tanpa R)

Dari cara ia duduk, tenang tapi waspada, dari sorot matanya yang tak ragu menatap lurus, aku tahu ia telah melalui medan yang tak mampu dipetakan oleh peta dunia: medan batin.

Lalu ia mulai bercerita, dengan bahasa halus khas orang Jawa yang memadukan ketegasan dan kelembutan. Ia pernah menjalani laku di Jawa Barat, sebuah perjalanan sunyi yang terdengar mustahil bagi logika manusia modern: berjalan kaki selama tiga setengah tahun, tanpa HP, tanpa transportasi, hanya membawa uang saku tiga ribu rupiah per hari.

Tidak boleh meminta-minta.
Tapi boleh menerima jika ada yang memberi.

Dan ketika ia bercerita, aku merasa sedang mendengar kisah seseorang yang pernah disembahsunyi oleh malam dan diuji terang oleh siang. Seorang murid kehidupan yang telah berkawan dengan lapar, kesendirian, dan ratusan wajah manusia.

Percakapan kami bergeser pada filosofi Jawa. Pambo seperti membuka pintu tua yang jarang diketuk. Ia bicara tentang Semar, atau "samar", sosok yang disamarkan, yang dianggap selalu hadir menitis kepada tokoh tertentu di Nusantara ketika zaman membutuhkan panduan batin.

Ia juga menyebut Kyai Kubro, ajaran budi, dan garis halus antara kebijaksanaan dan keluguan. Ada suasana seolah bus kami bukan lagi bus malam, melainkan pendapa yang melintasi ruang dan waktu, memuat dua orang yang sedang membicarakan rahasia pulau tua.

Kemudian topik itu muncul..
Gelap, pekat, tapi dibicarakan dengan tenang: tentang Susuk

Pambo berkata bahwa susuk memang memancarkan pesona, aura, dan daya. Tapi setiap cahaya palsu selalu menuntut bayaran: tubuh si pemakai akan rusak ketika mendekati kematian, seolah alam menagih kembali apa yang bukan hak manusia.

"Nek ora kuat, awaké dewe dewe sing mbayar," (kalau tidak kuat, badannya sendiri akan hancur) katanya pelan.

Ia berbicara juga tentang pesugihan, tentang tempat-tempat yang dihindari para pejalan batin: Gunung Kawi.

Baginya, dan bagi perguruannya, Gunung Kawi adalah tabu, pusat energi yang rusak, episentrum kutukan. Energi yang lahir dari perjanjian manusia dengan bayangan mereka sendiri.

“Aku gak bakal naik ke sana,” ujarnya sambil geleng kepala. “Guru-guruku ngendika, Gunung Kawi kuwi kaya sumur tua sing wis dipenuhi niat-niat gelap.” (Guru-guruku bilang, Gunung Kawi itu seperti sumur tua yang penuh dengan niat-niat gelap).

Lalu ia menambahkan sesuatu yang membuatku merinding:

“Pramana kutuk iku katon saka wujud-wujud sing ora ajeg. Monyet-monyet kuwi dudu mung monyet. Iku isyarat, yen alasé wis ora netral.” 
(“Tanda kutukan itu terlihat dari wujud-wujud yang tidak wajar. Monyet-monyet itu bukan sekadar monyet. Itu adalah isyarat bahwa hutan (atau tempat itu) sudah tidak netral lagi.”).

Binatang-binatang itu adalah penjaga sekaligus peringatan bahwa ada sesuatu di gunung itu yang tidak selaras dengan tatanan semesta.

--

Saat bus memasuki Jogja dan lampu-lampu kota mulai menari di kaca jendela, aku mulai bersiap turun di persimpangan Babarsari. Pambo masih duduk tenang di kursinya, seolah perjalanan panjang baginya baru saja dimulai.

Aku berdiri, menyalaminya.

Ia menatapku sambil tersenyum, senyum seorang pejalan yang sudah akrab dengan jalan-jalan sunyi semesta.

“Urip iki mung mampir ngombe, mas,” katanya pelan. “Sing penting, ojo nganti salah sumber banyu.”
(hidup itu hanya numpang untuk minum, yang penting jangan sampai salah sumber mata air)

Aku turun dari bus, menjejak trotoar Babarsari yang diterangi lampu malam. Dari luar, aku sempat melihat bus itu bergerak lagi, perlahan menyatu dengan arus perjalanan menuju Jawa Barat.

Pambo masih di dalam melanjutkan lakunya, melanjutkan misinya, entah apa yang dikejarnya selain keheningan yang hanya ia dan gurunya pahami.

Kami berpisah di Jogja.

Pertemuan itu singkat, tapi meninggalkan jejak panjang, seperti petuah yang tidak diberikan, tapi terasa masuk sendiri ke dalam dada. Seperti angin malam yang menutup perjalanan, tapi membuka ruang baru di dalam pikiranku- ruang untuk menghargai bahwa setiap orang membawa cahaya dan kisahnya sendiri, tanpa perlu diadili.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Unfinished Croissant

Filosofi Raja Jawa: Ngalah, Ngalih, Ngamuk

Numerologi: Memahami Hikmah Dibalik Angka 17.07