Postingan

Menampilkan postingan dengan label narsisistik

Memeriksa Diri di Tengah Relasi yang Membingungkan (catatan bersama dr. Hana)

Gambar
Menghadapi relasi dengan narsistik tidak cukup dengan niat baik atau kesabaran. Pada titik tertentu, bantuan profesional menjadi kebutuhan, bukan karena kita lemah, tetapi karena realitas terus dipelintir. Psikolog atau psikiater bukan tempat mencari pembenaran, melainkan ruang untuk menguji kewarasan di tengah kebingungan yang disengaja. Ironisnya, di situlah letak keberanian terbesar. Dalam relasi narsistik, orang yang memilih ke profesional sering justru dicap gila, tidak waras, atau bermasalah. Stigma itu bukan kebetulan. Itu taktik. Ketika seseorang berani mencari bantuan, kendali narasi terancam. Maka jalan termudah adalah membalik makna: yang memeriksa diri dianggap sakit. Disclaimer:  nama dan detail tertentu disamarkan untuk menjaga privasi dan etika profesional. Pertemuan pertamaku dengan dr Hana itu hari Jumat. Aku masih berstatus suami. Belum ada rencana cerai. Aku datang bukan dalam kondisi hancur, tapi lelah. Pikiran berisik, tidur berantakan. Aku ingin jeda. Di ruang...