Kun Fayakun dan Keindahan Kesatuan Kuasa Allah
Sahabat saya berkata dengan nada khawatir, "Tulisan kamu tentang Kun Fayakun itu melenceng dari akidah." Saya terdiam sejenak, merasakan bagaimana kesalahpahaman bisa terjadi.
Tulisan yang dimaksud sahabat saya adalah Nur Muhammad & Nabi Muhammad: Obrolan Tertunda dengan Gus Hasyim. Dia mengomentari kalimat yang tertulis "..kemudian kehendak-Nya (kun), lalu terjadilah (fayakun)."
Yang saya tulis bukanlah upaya untuk memisahkan atau mendekonstruksi firman Allah. Justru sebaliknya, saya ingin memperkuat keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa dan Maha Sempurna dengan cara memahami kedalaman makna "Kun Fayakun" secara lebih mendetail.
Ketika saya menganalisis "Kun" sebagai dimensi kehendak dan rancangan Allah, serta "Fayakun" sebagai dimensi realisasi dan perwujudan, saya tidak memecah-belah. Saya mencoba memahami kesempurnaan yang tersembunyi di balik kesederhanaan ungkapan tersebut. Seperti mengamati berlian dari berbagai sudut, bukan untuk memecahnya, tetapi untuk mengagumi setiap facet (sisi) keindahannya.
Logikanya sederhana: jika Allah bisa menciptakan segala sesuatu hanya dengan "Kun Fayakun" maka kehendak-Nya ("Kun") pastilah sempurna sejak awal, dan realisasinya ("Fayakun") pastilah tanpa hambatan. Ini justru menunjukkan bahwa tidak ada jeda waktu, tidak ada trial and error, tidak ada penyesuaian. Semuanya telah sempurna dalam rancangan-Nya sebelum diwujudkan. "Kun" berhubungan dengan qadar. Ketentuan dalam ilmu Allah, sedangkan "Fayakun" terkait qada. Pelaksanaan ketentuan dalam realitas (QS. Al-Qamar 54:49).
Saya menjelaskan ini kepada sahabat saya dengan tenang. "Bukan memisahkan," kata saya, "tapi mengagumi kesatuan unik antara kehendak dan realisasi dalam kekuasaan Allah" (QS. Al-Furqan 25:2). Dia mengangguk perlahan. Kadang, niat untuk memperkuat iman justru tampak seperti keraguan bagi yang melihat dari luar. Namun Allah yang mengetahui isi hati, dan Dia tahu bahwa setiap kata yang saya tulis lahir dari kekaguman, bukan keraguan.
Akhirnya saya tersenyum dan berkata (dalam hati), "Kamu tahu, perbedaan kita ini seperti dua orang yang sama-sama mengagumi bulan purnama. Kamu menikmati keindahannya secara utuh, sementara saya sibuk menghitung kawah-kawahnya dengan teleskop. Pada akhirnya, kita berdua tetap terpesona oleh keagungan yang sama—hanya caranya yang berbeda. Yang penting, kita tidak sampai lupa bahwa yang kita kagumi adalah karya Sang Maha Pencipta, bukan teleskopnya."

Komentar
Posting Komentar