Hadiah dari Icha di Hari Ayah: Refleksi Seorang Ayah dan Surat Ad-Duḥā
Hari itu, di Hari Ayah, aku menerima sebuah pesan suara dari anak keempatku, Icha.
Ia menyanyikan lagu Virgoun yang telah digubahnya sendiri.
Lembut, jujur, dan penuh rasa:
dan ayah sudah tak ada lagi di sampingku
ku akan mengerti mengapa begitu menyebalkannya ku di matamu...”
Aku mendengarkannya dalam diam. Ada sesuatu yang menembus dada, bukan sekadar getaran nada, tapi gema dari ruang batin yang pernah sunyi.
Di tengah usia dan kedewasaan yang mulai tenang, suara anakku seperti menghidupkan kembali sesuatu yang lama bersemayam: perasaan menjadi "yatim", bahkan saat orang-orang masih ada.
Surat yang turun kepada Rasulullah ﷺ ketika beliau merasa ditinggalkan.
Kala wahyu terhenti, sunyi, dan ejekan manusia menyayat hati.
Namun dari langit datang kalimat yang menenangkan seluruh jiwa yang pernah merasa sepi:
“Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu.”
Seolah Allah berkata,
Aku tidak pernah pergi. Aku selalu di sini, bahkan di saat kau merasa sendirian.
Ayat berikutnya mengingatkan beliau pada masa kecilnya:
“Bukankah Dia mendapatimu yatim, lalu Dia melindungimu?”
Di situ aku berhenti.
Kata “yatim” itu menyala, bukan sekadar status kehilangan ayah,
tapi sebuah pengalaman batin universal: kehilangan figur pelindung, kehilangan rasa aman, kehilangan kehangatan yang menegakkan jiwa.
Kompleks ini bisa hidup di dalam siapa pun, bahkan ketika orang tuanya masih ada.
Ia berbisik dalam bentuk rasa takut kehilangan, keinginan untuk diterima,
atau luka lama yang muncul ketika cinta terasa jauh.
Ketika aku mendengarkan suara Icha, aku merasakan kompleks itu bergetar halus di dalam diriku.
Tapi bukan dalam bentuk luka, melainkan pengertian.
Mungkin, setiap ayah yang pernah merasa sendirian di masa kecilnya
akan belajar mencintai anaknya dengan caranya sendiri.
Kadang kaku, kadang keras, tapi selalu berangkat dari kasih yang tak pandai diucapkan.
Aku teringat masa-masa ketika aku juga merasa yatim secara batin:
orang tua sibuk, dunia tak menunggu, dan keheningan menjadi guru.
Namun kini, sebagai ayah, aku menyadari sesuatu yang pelan-pelan menenangkan:
bahwa luka yatim itu tidak harus diteruskan,
ia bisa menjadi cermin untuk mencintai dengan kesadaran.
“Ayah, aku mulai mengerti mengapa kau begitu.”
Dan mungkin itulah yang paling indah dari menjadi orang tua,
bukan ketika anak memujimu, tapi ketika ia memahami sisi yang dulu disalahpahami.
“Bila bentakan kecilmu patahkan hatiku,
lebih keras dari itu dunia kan menghakimiku.”
Kalimat itu seperti gema dari Ad-Duḥā versi Icha:
sebuah pengakuan bahwa kasih ayah memang tak selalu lembut,
tapi selalu ada di balik benteng yang menjaga.
Dan di sanalah cinta menemukan bentuknya yang paling maskulin,
diam, tegas, namun penuh kasih yang terjaga.
Ia adalah undangan untuk mengenal kasih sayang Tuhan melalui kehilangan.
Rasulullah ﷺ pun melewatinya, dari yatim menjadi yang paling penuh kasih.
Karena siapa pun yang pernah kehilangan pelukan dunia,
akan lebih cepat mengenali pelukan Ilahi.
Kini, ketika Icha berkata:
“Kau ada di sini, menjadi rumah yang selalu menanti kepulanganku...”
aku tahu, doa Ad-Duḥā itu hidup di dalam hubungan kami.
Aku bukan ayah yang sempurna.
Tapi aku belajar, dari luka dan cinta,
bahwa menjadi ayah bukan sekadar hadir secara fisik,
melainkan menjadi rumah batin,
tempat anak bisa pulangm, bukan untuk berlindung dari dunia,
tapi untuk mengingat bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian.
Dan di balik suara lembut anakku,
aku mendengar bisikan dari langit:
“Tuhanmu tidak meninggalkanmu, dan tidak membencimu.” 🌤️
--
Tulisan ini terinspirasi dari suara indah anak perempuanku Alisha Zahramajida Ardhana dan refleksi pribadi atas QS surat Ad Duha.
Komentar
Posting Komentar