Bubarkan DPR: Trauma Kepercayaan Rakyat dan Gagalnya Komunikasi Politik


Demo 25 Agustus ramai disebut sebagai hari protes menuntut pembubaran DPR. Apakah demo itu benar-benar terorganisir atau sekadar seruan viral, bagi saya bukan itu inti masalahnya. Yang lebih penting adalah memahami mengapa rakyat sampai punya dorongan sefrontal itu.

Disclaimer: tulisan ini lahir sebagai bentuk tanggung jawab sebagai warga negara, yang ketika menyaksikan ketidakadilan, diam bukan pilihan. Apa yang saya sampaikan bukan sekadar kritik, melainkan refleksi dari kegelisahan bersama, agar negeri ini kembali berjalan di atas keadilan, amanah, dan keberpihakan pada yang lemah.

Di balik teriakan “bubarkan DPR”, saya membaca ada luka yang lebih dalam: trauma trust (trauma kepercayaan). Rakyat merasa wakil yang dipilih dengan susah payah justru menjauh dari kenyataan hidup mereka. Saat rakyat kelaparan, pajak dinaikkan, subsidi dipangkas, para wakil malah berjoget di ruang terhormat dengan gaya DJ. Simbol ini menyakitkan, bukan karena gerakan jogetnya, tapi karena ia mewakili ghaflah (kelalaian). Hati yang tidak peka pada penderitaan yang diwakili.

Di titik ini, kita bicara tentang "privilege" atau keistimewaan. Anggota DPR mendapat gaji, tunjangan, fasilitas, bahkan pembebasan pajak yang tidak dimiliki rakyat biasa. Itu privilege. Tetapi dalam logika moral, privilege seharusnya bukan hadiah untuk dinikmati, melainkan amanah untuk membela yang lemah. Rasulullah SAW sendiri punya kedudukan yang tinggi, tetapi beliau gunakan keistimewaannya untuk melindungi umat, bukan untuk hidup bermewah-mewah.

Masalah bukan sekadar bubarkan DPR. Kalau DPR dibubarkan tanpa perbaikan ruh komunikasi, lembaga pengganti pun bisa jatuh pada kesalahan yang sama. Intinya adalah bagaimana wakil rakyat memahami bahwa privilege mereka adalah alat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat kecil—petani, buruh, pedagang, dan mereka yang terpinggirkan.

Dalam tradisi Islam, kepemimpinan adalah amanah. Doa orang yang terzalimi menembus langit, lebih kuat daripada kursi empuk dan fasilitas. Itulah yang seharusnya ditakuti oleh siapa pun yang hari ini duduk di ruang wakil rakyat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Unfinished Croissant

Filosofi Raja Jawa: Ngalah, Ngalih, Ngamuk

Numerologi: Memahami Hikmah Dibalik Angka 17.07