66 atau 99: Bukber Bersama Icha dan Faiz yang Mengajarkanku Melihat dari Sisi Lain


Kadang pelajaran hidup tidak datang dari buku tebal.

Ia datang dari selembar kertas kecil… dengan angka 66 di atasnya.

Rabu minggu lalu aku touring kecil bersama dua anakku: Icha dan Faiz. Hanya berkeliling Bantul menjelang waktu berbuka. Tidak ada agenda khusus, hanya menikmati jalan sore sambil mencari tempat berbuka.

Motor melaju santai menyusuri jalan-jalan Bantul. Angin sore terasa ringan. Dari belakang sesekali terdengar suara Icha dan Faiz berdiskusi tentang makanan apa yang akan mereka pesan nanti.

Rencana awal sebenarnya sederhana: buka puasa di Warung SS (Spesial Sambal) di Jalan Parangtritis. Tapi begitu sampai, tempatnya sudah penuh. Parkiran padat, antrean meja panjang.

Aku menoleh ke Icha.

“Gimna?”

Tanpa berpikir lama ia menjawab,

“Pak Pong aja.”

Motor kembali melaju menuju Sate Pak Pong, tempat makan favoritnya.

Namun kami tidak langsung ke sana. Aku sengaja berhenti dulu di Indomaret. Selain menunggu waktu berbuka, juga memberi kesempatan agar antrean di Pak Pong sedikit berkurang.

Di Indomaret itu kami membuka oleh-oleh dari Siska, tantenya anak2. Ia punya usaha kuliner online bernama DoEats, yang sering membuat mentai, dessert dan dimsum (autonikmat).

Kami berbuka sederhana dengan dimsum dan dessert itu. Setelah azan magrib, kami sholat berjamaah.

Ada rasa damai yang sulit dijelaskan ketika sholat bersama anak-anak. Dunia yang biasanya terasa sibuk mendadak menjadi pelan.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Pak Pong.

Tempatnya tetap ramai, tapi kami masih mendapat meja. Icha dan Faiz langsung kompak memesan sate klatak. Sementara aku memilih menu yang jarang kupesan: tongseng kepala kambing.

Kami menunggu.

Lalu Icha mengeluarkan kertas antrean kecil itu.

Nomor 66.

Aku duduk berhadapan dengan Icha. Dari sudut pandangku angka itu terlihat seperti 99. Iseng saja aku berkata,

“Antriannya panjang ya… kita nomor 99.”

Icha langsung mengangkat kertas itu dan mengerutkan dahi.

“Bukan 99, Abi. Itu 66.”

“Lah jelas 99,” kataku sambil menunjuk dari arahku.

“Ini 66,” jawabnya cepat.

Aku sengaja bertahan.

“Coba lihat dari sini. Dua angka sembilan.”

Icha semakin yakin.

“Abi yang salah lihat. Ini jelas enam-enam.”

Aku membalas lagi,

“Kalau dari sini, itu sembilan-sembilan.”

“Ya karena Abi lihatnya kebalik!”

Perdebatan kecil itu berlangsung beberapa detik. Tidak lama, tapi cukup serius bagi kami berdua. Aku kekeh dengan 99. Icha kekeh dengan 66.

Kami sama-sama merasa benar.

Lalu tiba-tiba aku berhenti bicara.

Aku memutar kertas antrean itu pelan dan melihatnya dari posisi Icha.

Memang 66.

Aku tersenyum.

Ternyata bukan siapa yang benar atau salah.

Kami hanya berdiri di dua posisi yang berbeda.

Di meja sate yang sederhana itu aku tiba-tiba sadar sesuatu.

Banyak perdebatan manusia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan angka itu.

Sering kali kita yakin melihat 99, sementara orang di depan kita benar-benar melihat 66. Bukan karena salah satu bodoh. Bukan juga karena salah satu keras kepala.

Kadang hanya karena kami melihat dari sisi yang berbeda.

Faiz sendiri tidak terlalu tertarik dengan filsafat angka.

Ia punya prioritas yang jauh lebih penting.

“Abi… sate klataknya kapan datang?”

Kami tertawa.

Malam itu sebenarnya sangat biasa. Touring kecil keliling Bantul. Buka puasa sederhana dg dessert dan dimsum DoEats dari tante Siska. Sholat magrib berjamaah. Lalu makan sate klatak dan tongseng kepala kambing di Pak Pong.

Tidak ada yang spektakuler.

Tapi justru dari momen kecil seperti itu aku belajar lagi sesuatu yang sering dilupakan orang dewasa.

Kebenaran sering kali tidak berubah.

Yang berubah hanya tempat kita berdiri melihatnya.

Dan mungkin sebelum terlalu cepat menyalahkan orang lain…

kita hanya perlu mencoba duduk sebentar di kursinya.

Siapa tahu yang kita lihat sebagai 99,

memang terlihat 66 dari sana.

-15 Ramadhan 1447H-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Unfinished Croissant

Filosofi Raja Jawa: Ngalah, Ngalih, Ngamuk

Numerologi: Memahami Hikmah Dibalik Angka 17.07