Pintu yang Tidak Perlu Ditunggu



Ada masa ketika saya mengira keputusan yang matang selalu berarti kepastian. Pilih tinggal atau pergi. Lanjut atau selesai. Pertahankan atau tinggalkan.

Ternyata hidup tidak sesederhana itu.

Ada keputusan yang justru menjadi dewasa ketika kita berhenti memaksanya menjadi hitam atau putih.

Dalam sebuah hubungan, saya pernah sampai pada titik ketika perasaan bukan lagi masalah utama. Yang lebih berat justru bayangan tentang masa depan yang pernah ikut tumbuh bersama seseorang. Bukan hanya soal kedekatan, tetapi tentang kemungkinan membangun sesuatu: bekerja bersama, menciptakan karya, menggarap mimpi yang sudah lama hidup bahkan sebelum orang itu datang.

Di situlah melepaskan menjadi sedikit lebih rumit.

Kita bisa berhenti menunggu seseorang, tetapi tetap mengakui bahwa pernah ada potensi yang nyata. Kita bisa melanjutkan hidup tanpa harus berpura-pura bahwa semua kemungkinan di masa depan sudah mati.

Saya kemudian belajar membedakan dua hal: potensi dan kapasitas.

Potensi adalah apa yang mungkin dimiliki seseorang. Kapasitas adalah apa yang benar-benar mampu ia jalankan secara konsisten.

Dalam hubungan maupun pekerjaan, kita sering jatuh cinta pada potensi. Kita melihat kecerdasan, kreativitas, chemistry, keberanian, atau visi yang terasa cocok. Lalu tanpa sadar kita mulai memperlakukan kemungkinan itu seolah-olah sudah menjadi kenyataan.

Padahal partnership tidak dibangun oleh kemungkinan.

Ia dibangun oleh konsistensi.

Pelajaran ini mengubah cara saya mengambil keputusan.

Saya tidak lagi bertanya hanya, “Apakah orang ini punya sesuatu yang saya butuhkan?”

Pertanyaannya menjadi lebih lengkap:

“Apakah dia mampu membawa kualitas itu secara stabil ketika keadaan tidak menyenangkan?”

Karena manusia terlihat berbeda ketika suasana baik dan ketika tekanan datang.

Di titik itu, saya memilih tetap berjalan.

Bukan karena semua pintu harus ditutup, tetapi karena hidup tidak boleh berhenti di depan satu pintu yang belum jelas akan terbuka atau tidak.

Ada perbedaan besar antara membuka kemungkinan dan menunggu kemungkinan.

Membuka kemungkinan berarti saya tetap menjalankan hidup, membangun pekerjaan, menjaga arah, memperluas jaringan, dan menemukan partner lain bila diperlukan.

Menunggu kemungkinan berarti sebagian hidup diam-diam masih ditempatkan pada keputusan orang lain.

Saya tidak ingin hidup seperti itu.

Maka beberapa keputusan memang tidak harus diselesaikan hari ini. Ada hal-hal yang cukup diletakkan di tempatnya: bukan dibuang, tetapi juga tidak lagi digenggam.

Kalau suatu hari keadaan berubah, keputusan bisa dievaluasi kembali berdasarkan fakta baru.

Bukan nostalgia.

Bukan janji.

Bukan bayangan lama.

Fakta.

Mungkin inilah salah satu bentuk kedewasaan dalam mengambil keputusan: memiliki keberanian untuk pergi, tetapi juga cukup tenang untuk tidak membuat keputusan permanen hanya demi terlihat tegas.

Karena ketegasan bukan selalu menutup semua pintu.

Kadang ketegasan adalah mengetahui pintu mana yang tidak perlu kita tunggu.

Dan setelah itu, tetap berjalan. [bersambung]

Tulisan ini terinspirasi dari percakapan dan nasihat EWS, sahabat baru yang datang di waktu yang menarik dan agak unik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filosofi Raja Jawa: Ngalah, Ngalih, Ngamuk

7 Cakra dan Posisinya dalam Tubuh

Terbanglah! Tapi Jangan Lupa Kamu Pernah Jadi Ulat