Dayohe Teko dan Sebuah Sore Bersama Pak Widodo
Sore itu saya sedang dipijat di tempat Pak Widodo, Pogung, Yogyakarta. Tidak ada agenda besar. Tidak ada diskusi bisnis. Tidak ada rapat organisasi. Hanya seorang terapis pijat berpengalaman, seorang pelanggan, dan percakapan yang mengalir ke mana saja.
Entah bagaimana awalnya, obrolan kami berhenti pada sebuah lagu dolanan Jawa yang mungkin pernah didengar banyak orang sejak kecil:
"E dayohe teko, e gelarno klasa..."
Kami lalu melanjutkan bait demi bait sampai selesai.
"E klasane bedhah..."
"E tambalen jadah..."
"E jadahe mambu..."
Sampai akhirnya tiba pada penutup yang sederhana:
"E yo golek sangu."
Menariknya, semakin kami mencoba memahami maknanya, semakin lagu itu terasa seperti teka-teki. Bukan karena bahasanya sulit, tetapi karena alurnya tampak tidak masuk akal.
Ada tamu datang. Tikar digelar. Tikar sobek. Ditambal jadah. Jadah basi. Dikasihkan ke anjing. Anjing mati. Dibuang ke sungai. Sungai banjir. Dibuang ke pinggir. Pinggir licin. Lalu tiba-tiba ditutup dengan kalimat, "ya sudah, cari bekal saja."
Kami berdiskusi cukup lama. Sampai sesi pijat selesai pun belum menemukan kesimpulan yang benar-benar memuaskan.
Dalam perjalanan pulang, saya justru merasa mungkin di situlah letak keindahan lagu rakyat. Ia tidak selalu memberi jawaban. Kadang hanya memberikan cermin.
Jika direnungkan, seluruh lagu itu sebenarnya bercerita tentang satu hal yang sangat manusiawi: kegagalan menghadapi kenyataan.
Masalah pertama bukanlah tikar yang sobek.
Tikar sobek adalah fakta.
Masalah sesungguhnya muncul ketika seseorang tidak siap menerima fakta tersebut. Ia lalu mencari jalan pintas. Sobek ditambal jadah. Jadah ternyata basi. Basi dipindahkan ke anjing. Bangkai anjing dipindahkan ke sungai. Sungai bermasalah, lalu dipindahkan ke pinggir.
Masalahnya terus bergerak, tetapi tidak pernah selesai.
Semakin dipindahkan, semakin membesar.
Saya jadi teringat banyak hal dalam kehidupan sehari-hari.
Ada orang yang menutupi kesalahan dengan kebohongan kecil. Kebohongan kecil melahirkan kebohongan berikutnya. Pada akhirnya energi habis bukan untuk memperbaiki masalah, melainkan untuk menjaga agar kebohongan tetap terlihat rapi.
Ada organisasi yang menghindari konflik penting demi menjaga suasana. Konflik memang tidak terlihat lagi, tetapi diam-diam berubah menjadi kubu-kubu kecil yang lebih sulit diselesaikan.
Ada pula seseorang yang menolak mengakui luka batinnya. Ia sibuk terlihat kuat di depan orang lain. Namun luka yang tidak dihadapi sering muncul kembali dalam bentuk kemarahan, kecemasan, atau kebutuhan berlebihan untuk mengendalikan keadaan.
Barangkali itulah makna tersembunyi dari rangkaian absurd dalam lagu tersebut.
Masalah yang tidak diselesaikan di akarnya akan terus berpindah bentuk.
Dalam tradisi Jawa maupun ajaran Islam, ada satu sikap yang tampaknya menjadi kunci: menerima kenyataan sebagaimana adanya (ridha).
Bukan pasrah tanpa usaha, tetapi berani melihat fakta tanpa sibuk melayani dengan ego.
Jika tikarnya sobek, akui sobek.
Jika salah, akui salah.
Jika belum mampu, akui belum mampu.
Sering kali keberanian terbesar bukan memperbaiki masalah, melainkan mengakui adanya masalah.
Lalu saya teringat bait terakhir:
"E yo golek sangu."
Mengapa setelah semua kekacauan itu justru disuruh mencari bekal?
Mungkin karena pada akhirnya hidup bukan tentang terlihat sempurna di depan tamu. Hidup adalah perjalanan panjang yang membutuhkan bekal.
Bekal ilmu agar tidak gegabah mengambil keputusan.
Bekal kebijaksanaan agar tidak menutupi masalah dengan masalah baru.
Bekal kerendahan hati agar tidak diperbudak citra diri.
Bekal iman agar hati tetap tenang saat kenyataan tidak sesuai harapan.
Sore itu sesi pijat selesai. Pak Widodo dan saya belum menemukan jawaban pasti tentang lagu Dayohe Teko. Namun saya pulang dengan satu kesan sederhana:
Terkadang hidup menjadi rumit bukan karena masalahnya besar, melainkan karena kita terlalu sibuk memindahkan masalah daripada menyelesaikannya.
Dan mungkin, seperti nasihat penutup lagu itu, saat semuanya terasa kusut, yang perlu dilakukan bukan mencari tambalan baru, melainkan kembali menyiapkan bekal untuk diri sendiri.
"E yo golek sangu."
Honocoroko dotosowolo 🙏👍😇
BalasHapus