Memeriksa Diri di Tengah Relasi yang Membingungkan (catatan bersama dr. Hana)


Menghadapi relasi dengan narsistik tidak cukup dengan niat baik atau kesabaran. Pada titik tertentu, bantuan profesional menjadi kebutuhan, bukan karena kita lemah, tetapi karena realitas terus dipelintir. Psikolog atau psikiater bukan tempat mencari pembenaran, melainkan ruang untuk menguji kewarasan di tengah kebingungan yang disengaja.

Ironisnya, di situlah letak keberanian terbesar. Dalam relasi narsistik, orang yang memilih ke profesional sering justru dicap gila, tidak waras, atau bermasalah. Stigma itu bukan kebetulan. Itu taktik. Ketika seseorang berani mencari bantuan, kendali narasi terancam. Maka jalan termudah adalah membalik makna: yang memeriksa diri dianggap sakit.

Disclaimer: nama dan detail tertentu disamarkan untuk menjaga privasi dan etika profesional.

Pertemuan pertamaku dengan dr Hana itu hari Jumat.

Aku masih berstatus suami. Belum ada rencana cerai. Aku datang bukan dalam kondisi hancur, tapi lelah. Pikiran berisik, tidur berantakan. Aku ingin jeda.

Di ruang praktik, aku tidak membuka semua cerita. Cukup secukupnya. Tidak perlu drama. Hari itu aku diberi obat. Bukan diagnosis besar. Bukan penghakiman. Aku pulang dengan kepala sedikit lebih ringan, masih menjalani relasi seperti biasa.

Pertemuan kedua datang seperti lanjutan. Kami bicara lebih rapi, tapi aku masih menahan satu pertanyaan besar: apakah ini murni relasi yang bermasalah, atau ada sesuatu dalam diriku yang perlu dibereskan?

Pertemuan ketiga datang mendekati titik balik. Kali ini aku yang membuka topik.

“Dok, kalau saya tes MMPI, perlu nggak?”

Bukan karena aku ingin pembuktian. Aku hanya tidak mau mengambil keputusan hidup dengan asumsi. Tes itu kukerjakan cepat. Kurang dari dua puluh menit. Tidak kupoles. Tidak kubaca ulang. Aku jawab sebagaimana adanya. Kalau ada yang jelek, ya sudah.

Beberapa hari kemudian aku kirim pesan: “dok, mau tanya. berapa kali ulangan sampai bisa disimpulkan hasil diagnosanya stabil?”

Jawabannya singkat dan tenang: “akan selalu ada yg berubah karena manusia dinamis. kecuali trait atau kepribadian dasar.”

Aku balas lagi, jujur, setengah bercanda: “jujur dok, saya merasa selama wawancara ada yg dokter sembunyikan 😁 kalau ada info penting terkait kelemahan saya, mohon di-disclose. biar saya perbaiki.”

Saat hasilnya dibahas, beliau membuka dengan kalimat datar, hampir seperti catatan teknis: “Setelah saya analisis, Anda orangnya jujur.”

Kalimat itu tidak membuat dadaku mengembang. Justru sebaliknya, aku terdiam. Aku sadar, kejujuran bukan soal benar atau salah, tapi tentang keberanian tidak mengendalikan hasil.

Kami berbicara tentang perubahan, tentang manusia yang dinamis. Dan tentang satu hal yang jarang disentuh: bahwa kepribadian dasar tidak mudah dipalsukan. Aku sempat bertanya, mungkin terlalu jujur, apakah ada sesuatu yang disembunyikan dariku. Bukan karena curiga, tetapi karena aku ingin utuh. Jika ada kelemahan, aku ingin tahu. Agar bisa diperbaiki.

Aku keluar dari ruang itu tanpa euforia. Tidak ada rasa menang. Yang ada justru keheningan yang bersih. Untuk pertama kalinya, aku tahu bahwa keputusanku nanti, apa pun itu, tidak akan lahir dari kebingungan yang ditanamkan, melainkan dari kesadaran yang diperiksa.

Dan di situlah aku paham: pergi ke psikiater bukan tentang membuktikan kewarasan, melainkan tentang memulai hidup dengan pijakan yang lebih jujur: tanpa kabut, tanpa pembalikan, tanpa kendali orang lain. 

Keberanianku duduk di ruang itu adalah caraku mengambil kembali diriku sendiri, dan berhenti menegosiasikan kenyataan dengan manipulasi.

Terimakasih, Dok..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Unfinished Croissant

Filosofi Raja Jawa: Ngalah, Ngalih, Ngamuk

Numerologi: Memahami Hikmah Dibalik Angka 17.07